Wednesday, April 1, 2009

FACEBOOK (penting atau engga sih menurut lo?)



Booming banget kan nih yg namanya facebook ato
bisa juga disebut FB, di kalangan anak muda jaman sekarang..
bahkan engga deh, di kalangan anak kecil dan dewasa
juga menyukai facebook..lo smua yg baca blog gw ini
pasti punya FB dong?


FACEBOOK?

dengan FB lo bisa kenalan dan punya temen
sebanyak mungkin dari seluruh dunia..

dengan FB lo bisa gila2an bareng dengan temen lo,
pacar lo, keluarga lo,or whatever deh..

dengan FB lo bisa ketemu lagi sm orang
yg mungkin lo udah lama ga pernah contact dengan dia
ato mungkin lo udah lupa tampangnya..


satu yang penting nih dari FB, kita emang jadi ga
punya PRIVACY sih,
karna semua orang yang udah jadi temen kita di FB
akan tau apa aja kegiatan2 kita dan apa aja yg
udah kita lakuin, lagi kita lakuin,sama yg mau kita lakuin


hmmHmmmhhh


Menurut gw sih dan buat gw sendiri (yaahhh gw curcol deh),
FB tuh penting ga penting sih, tapi banyak pentingnya lah..
gw bisa upload foto2 gw, di tag in ke orang, di fotonya sesuai
dengan namanya lagi, jadi kita tau siapa aja yang ada
di foto itu.. gw bisa comment status orang, fotonya,
video, bisa juga wall ke orang..
Pentingnya FB menurut
gw sendiri, kita bisa tau tentang semua orang
tanpa perlu kita tanya lagi bahkan tanpa perlu lo kenal siapa
lo juga bisa tau tentang orang itu..
FB tuh tempatnya gila2an gw bareng sama temen2 gw..
sebenernya sih ada 1kegunaan FB buat gw..


Gw bisa tau 24jam tentang ‘dia’.. gw bisa tau
semua kegiatan2
‘dia’ sepanjang hari.. gw tau ‘dia’
dimana?ngapain?sm siapa?..
gw bisa tau siapa aja yg lg deket sm ‘dia’..
gw bisa liat foto2 terbarunya gw bisa bacain smua
cerita ‘dia’ sama temen2nya..pokoknya gw tau deh
smua tentang ‘DIA’ tanpa perlu gw tanya langsung
sama dia, dengan tinggal buka link facebooknya..
walaupun kadang gw akan tau dari ‘dia’nya juga siihh..
dan 1lagi nih yang akan ngebuat lo pasti ketawa deh
ato mungkin ngatain gw norak bisa juga sih, haaaaaa...
dengan FB gw bisa deket sm ‘DIA’

(cukup aku dan Tuhan dan semua orang yg
memang tu dan mengerti siapa ‘DIA’ itu sebenernya)



Sekarang gw mau tanya sama lo smua yg baca
‘ PENTING ATAU ENGGA SIH FACEBOOK BUAT LO?’

Kasih comment lo di blog ini yah..
thankss

SEBENTAR LAGI,SEBUAH MIMPI

Cahaya sore hari mulai meredup. Ketika saya memejamkan mata, siluet jendela kamar saya telah bercampur dengan sinar kemerahan yang perlahan berubah gelap. Perlahan, sangat perlahan. Seperti ketika saya berusaha memahami dan belajar peduli pada kamu. Dengan lembut, redup sore hari membelai rambut saya dan membuat saya terlelap tenang. Sejenak saja. Hanya untuk menguapkan kelelahan yang bertengger di kedua bahu saya yang mulai lemas.

Saya bermimpi tentang kamu.

Tentang kedua matamu yang membuat saya bertanya ingin tahu. Tentang senyummu yang menyembunyikan sesuatu. Bermimpi tentang suaramu yang tenang. Suaramu, setenang tidur sejenak sore ini, yang selalu berhasil melepas lelah yang bersikeras duduk di kedua bahu saya yang tidak cukup kokoh. Saya melihat diri saya memandang ke dalam kedua mata itu, tempat kamu bersembunyi dengan rapi, sambil berusaha menangkap kilas demi kilas kelebatan jujur yang terkadang berlari menyeberang dari satu sisi ke sisi lain. Pada saat-saat seperti itu, saya akan tersenyum di dalam hati. Memilih untuk berpura-pura tidak melihat mereka melintas. Membiarkan mereka menampakkan diri pada saat yang tepat. Perlahan, dengan terbuka, dan tidak terpaksa.

Di dalam mimpi, kamu mengulurkan tangan, menunggu saya menggandengnya. Lagi-lagi, saya berpura-pura tidak melihat uluran itu. Tersenyum di dalam hati, menunggu mereka yang bersembunyi di balik kedua mata itu keluar. Perlahan, dengan terbuka, dan tidak terpaksa.

Kamu mungkin kecewa. Barangkali kamu sempat merasa saya berjalan menjauh. Saya tertawa kecil. Kenapa kamu terlihat aneh? Saya selalu menganggap kamu sebagai salah satu dari kita. Hanya seringkali saya terlalu sibuk melindungi diri. Dari apa? Entah, saya tidak pernah yakin. Mungkin dari matahari siang yang terik. Atau cahaya kemerahan senja yang akan selalu berubah menjadi gelap. Mungkin juga dari tengah malam yang begitu diam dan kesepian. Bisa juga pagi hari yang mengharuskan saya menghadapi kewajiban. Dari kamu. Dari musuh-musuh di dalam diri sendiri. Entah. Saya terlalu sibuk melindungi diri.

Sebentar lagi saya akan terbangun. Karena hari-hari tidak selalu merupakan mimpi. Saat saya terbangun, kamu tidak akan berada di sini. Tapi hari ini akan segera berlalu. Dan begitu juga dengan besok. Juga hari-hari setelah besok. Dan pada saatnya, saya mungkin akan menggandeng tanganmu yang terulur. Perlahan, dengan terbuka, dan tidak terpaksa.

SIJAGOMERAH


sijagomerah’
ini adalah
mobil hadiah dari
papiku
tersayang,
papi paling
baik sedunia.
kenapa
gw kasih
nama dia
sijagomerah
karna
gw freak bgt
sama warna merah
dan pastinya juga
mobilnya warna merah,
ahhaaa..lo smua harus
liat dalemnya
yang FULL merah bgt
(sekarang gw baru ngerasa panasnya)..
ohya ada yang lebih special
dari sijagomerah ini,
plat no.nya sesuai nama gw loh, walaupun
semua orang bilang plat gw maksa banget
tapi pasti orang tau klo plat itu
kebacanya nama gw..heeee
gw sayang banget sama sijagomerah ini,
dia adalah sahabat terbaik buat gw..
dia ngelindungin gw dari panas dan ujan,
dia yg nemenin gw kemana2, dia yang selalu
tau tentang semuanya saat gw sama2 dia..
ga cuma gw kok yg ngerasain serunya dan asiknya
naik sijagomerah tapi temen2 gw juga udah pada tau
kok.. (ya ga?) dia udah nganterin
kita kemana2, sijagomerah ini udah banyak bgt nyimpen
kenangan dan moment2 indah yang ga terlupakan..
makasih yah sijagomerah buat jasa2nya..

mesin waktu dan senja hari itu

Aku memimpikan tentang mesin waktu setiap beberapa saat dalam keseharianku. Seperti siang tadi, saat aku masih enggan bergerak lebih dari lima meter, pemikiran tentang mesin waktu mulai merasuki pikiranku. Waktu adalah misteri. Caranya bekerja seringkali mengejutkanku, membangunkanku dari lamunan yang membuai, mengembalikanku pada penyesalan-penyesalan yang kulewati bersamanya. Bersama waktu.

Waktu telah membuatku terbawa dalam tawa riang, tangis duka, pelajaran, keputusasaan, kebuntuan, kebahagian, dan banyak kenang-kenangan lain yang dibawanya ke dalam hidupku selama sembilan belas tahun. Waktu mengajariku menonton semua cuplikan-cuplikan hidupku yang telah berlalu, baik maupun buruk – suka ataupun tidak suka, tanpa dapat menggapainya kembali dan memperbaikinya. Waktu bukanlah sesuatu yang kembali, saat itulah datang memori. Memorilah yang kembali menggantikan waktu.

Memori membuatku berpikir banyak, menyadarkanku akan kesalahan dan keberuntungan. Memori seringkali membuat kedua mataku terpejam penuh kepenatan dan tawa pahit di sela-sela kesepianku, namun juga tak jarang ia mengembalikanku ke dalam ilusi kebahagiaan. Saat aku merasakan kebahagiaan dalam memori yang datang mengunjungiku, aku sadar itu adalah kenangan akan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah yang sedang kugenggam, yang sedang berada tepat di sebelahku.

Kebahagiaanku sedang tersenyum menatap ke arahku. Tinggi dan tegap, membuatku merasa begitu lengkap dan terlindungi, menggenggam erat tangan kananku seperti tidak ingin melepaskannya lagi. Aku bertanya-tanya apakah ia tahu apa yang sedang kupikirkan ketika aku menatap kembali ke dalam kedua mata cokelatnya yang teduh. Apakah ia tahu bahwa aku merasa begitu kehilangan setiap kali sosoknya menghilang di ujung jalan?

Ia adalah kebahagiaanku yang paling dalam sekaligus paling rapuh. Kekuatan sekaligus kelemahanku.

Setiap kali aku memandangnya berjalan menjauh di akhir kebersamaan-kebersamaan singkat kami, aku merasa dapat kehilangan dirinya sewaktu-waktu. Ia memberiku kesedihan dan kegembiraan yang sama besarnya setiap kali jari-jariku membelah kisi-kisi rambutnya, mencoba menangkap sekeping pikirannya yang melayang-layang. Aku hampir selalu gagal dalam hal itu, ataukah sebenarnya pikirankulah yang gagal kutangkap? Lagi-lagi sebuah misteri.

Aku lebih suka berbicara di dalam kepalaku, meramu pertanyaan-pertanyaan, menanyakannya, dan memberikan kemungkinan-kemungkinan akan jawabannya di dalam otak sederhanaku. Itulah kenapa aku tertarik padanya pada kedekatan kami yang pertama.

Saat memandangnya dan menemukannya memandang kembali ke dalam mataku, aku menemukan beribu-ribu pertanyaan tanpa berhasil menemukan jawabannya. Menarik. Menantang. Melelahkan. Aku ingin tertawa mendengar diriku berpikir seperti ini. Saat mencintainya aku merasa begitu sempurna. Mencintainya membuatku merasa utuh. Menyatukan kembali kepingan-kepingan yang lepas. Aku mencintai kebahagiaanku saat mencintainya. Aku mencintai kejernihan matanya yang mengamatiku dalam diam untuk kemudian berbisik di telingaku, memberitahuku betapa dia mencintaiku.

Dan biasanya aku akan berteriak dan menjelaskan padanya bahwa aku juga mencintainya. Seperti aku mencintai hujan. Hujan yang mengguyur perlahan dan meninggalkan harum rerumputan sejuk serta butiran embun. Hujan yang selalu menyisakan secuil surga di bumi. Aku selalu berteriak membalasnya seperti itu, di dalam kepalaku.

Aku sudah bilang aku bukan pembicara yang baik.

Aku adalah pemikir yang sangat baik, tetapi merupakan pembicara yang sangat buruk. Itu adalah suatu bentuk penyiksaan. Karena aku tidak pernah mampu menyampaikan maksudku. Untuk memperburuk keadaan, belum pernah ada yang mampu menyelami pikiranku dan mendapati maksudku yang sebenarnya. Itu yang sering membuatku kesepian – menciptakan jarak antara aku dan dunia di sekitarku.

“Kamu lelah?” Tanyanya sambil membelai rambutku. Perlakuan yang sangat kusuka. Aku tersenyum dan menatapnya, “Lelah untuk apa?”.

“Aku tidak tahu, sepertinya yang macet bukan hanya jalan ini, tapi juga pikiranmu.”

Aku tertawa kecil. Dia baru saja membacaku. Aku mencintainya karena bersama dirinya aku tidak perlu mengerut-ngerutkan setiap sudut otakku untuk menciptakan sebuah pernyataan atas apa yang sedang kupikirkan. Aku mencintainya karena dia memberikan waktunya untuk mengamatiku dan membacaku saat orang-orang lain mengandalkan kepraktisan komunikasi verbal yang merupakan kesulitanku yang utama.

Ya, aku lelah mencoba memikirkan alasan yang paling tepat untuk memberitahumu seberapa berartinya kamu untukku. Aku lelah mencoba mengerti arti kehadiranku di sisimu. Aku lelah menebak-nebak perasaanmu yang sebenarnya, pikiran terdalam yang tersimpan jauh di balik kedua mata cokelatmu yang hampir selalu terlihat gembira.

Tentu saja aku mengatakannya di dalam kepalaku, “Tidak. Aku baik-baik saja. Seperti biasanya.”

Tangannya masih terdiam di samping kepalaku sejenak. Bersamaan dengan matanya yang masih mencoba mengobservasi pikiranku melalui kedua mataku yang kini berbohong. Dan kemudian dia tersenyum kecil dan kembali pada kemudi. Menatap sedikit frustrasi ke arah jalanan yang dipenuhi kendaraan-kendaraan yang sudah terdiam di tempatnya masing-masing selama setengah jam terakhir. Jalanan memang sedang tidak bersahabat. Tapi aku tidak begitu keberatan. Gerimis kecil sedang mengantar turunnya senja. Langit masih menyisakan sedikit cahaya senja yang menyembul dengan enggan dan lampu-lampu di jalan sudah menyala. Waktu favoritku selama satu hari. Dan aku sedang bersamanya.

Dia menarik nafas dalam. Aku tersenyum tanpa menatapnya dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.

“Nanti pasti bergerak juga,” hiburku sambil mencium bahu jaketnya yang beraroma cherry. Dan dia kembali membelai rambutku.

Pikiranku kembali disibukkan dengan masa depan yang akan kami hadapi. Yang harus kami hadapi. Perlahan dadaku terasa sesak. Kenapa kesulitan harus datang di saat-saat yang paling sempurna? Aku selalu mengatakan padanya sambil tersenyum, Jangan pikirkan kesulitan yang akan menghadang di depan. Kita sedang mengenggam kebahagiaan dan itulah yang terpenting. Nikmati hari ini. Kebohonganku yang terbesar. Ketakutanku pastilah lebih besar dari miliknya.

Walaupun begitu, entah kenapa di suatu tempat yang dalam di sudut diriku aku yakin, seperti jalanan senja ini, keadaan akan menjadi lebih baik. Kami akan menemukan jalan keluar. Entah bagaimanapun bentuknya.

“Hm?” Dia menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari tatapanku. Mungkin dia membaca sebersit kekhawatiran di wajahku. Aku mengusap pipinya dan tersenyum, “Tidak.” Kemudian aku mencium bibirnya perlahan.

Dan aku merasa semuanya akan baik-baik saja.

Tuesday, March 10, 2009